Indian Ocean Dipole dan Fenomena Kemarau Basah Tahun 2013

“Kenapa bulan juni masih sering hujan ?”. “Kok musim kemarau banyak hujan ?”.

Ini pertanyaan-pertanyaan klasik, dan biasanya ditanyakan berulang setiap tahun. Mayoritas masyarakat kita umumnya masih beranggapan (baca: ‘terdoktrin’) bahwa musim hujan itu identik dengan banyak hujan, dan kemarau dengan jarang hujan. Padahal, dalam beberapa dekade terakhir, banyak ditemukan fenomena cuaca dan iklim di wilayah kita yang bisa dibilang menyimpang dari kaidah-kaidah ‘musiman’ yang umumnya dikenal masyarakat, misalnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Indian Ocean Dipole (IOD) dan lain-lain. Pada saat fenomena-fenomena ini terjadi, musim hujan bisa jadi ‘kering’, dan musim kemarau bisa jadi ‘basah’. Dalam tulisan kali ini saya akan sedikit bercerita tentang Indian Ocean Dipole atau yg beken disebut IOD, serta pengaruhnya terhadap cuaca dan iklim di Indonesia.

Apa itu IOD ?

Sebelum penjelasan yg lebih rumit, mungkin anda pernah mendengar tentang El-Nino (ENSO) ? Simply speaking, IOD ini kurang lebih sama dengan ENSO. Perbedaannya adalah, kalau ENSO dibangkitkan di Samudera Pasifik, maka IOD mengambil tempat di Samudera Hindia. IOD ini sendiri termasuk fenomena yang baru ditemukan (dipublikasikan oleh Dr. N. Hameed Saji dkk. tahun 1999), jadi anda nggak usah minder kalau memang belum pernah dengar (:-P).

IOD adalah fenomena lautan-atmosfer di daerah ekuator Samudera Hindia yang mempengaruhi iklim di Indonesia dan negara-negara lain yang berada di sekitar cekungan (basin) Samudera Hindia (Saji et al., Nature, 1999). Sesuai namanya, IOD dikarakteristikkan oleh anomali suhu muka laut atau SST (Sea Surface Temperature) antara ‘dua kutub’ Samudera Hindia, yaitu Samudera Hindia barat (50E-70E,10S-10N) dan tenggara (90E-110E,10S-0S). Perbedaan anomali SST antara dua daerah ini disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI), dan digunakan untuk mengukur kekuatan dari IOD itu sendiri. Periode di mana DMI bernilai positif umumnya disebut sebagai periode IOD positif (IOD+), dan sebaliknya, ketika DMI bernilai negatif disebut periode IOD negatif (IOD-).

Seperti halnya ENSO, IOD juga sangat berpengaruh terhadap cuaca dan iklim di Indonesia.

Pada periode IOD+, perairan di Samudera Hindia bagian tenggara umumnya lebih “dingin” (suhu lebih rendah dari rata-rata), di mana perairan di Samudera Hindia bagian barat akan lebih “hangat” (suhu lebih tinggi dari rata-rata). Akibatnya, konveksi (yang merupakan proses awal terbentuknya awan dan hujan) akan bergeser dari Samudera Hindia bagian timur ke arah barat, dan membawa banyak hujan ke bagian timur benua Afrika. Di sisi lain, daerah Samudera Hindia bagian timur yang “ditinggal lari” konveksi tadi (seperti Indonesia) akan menderita kekeringan.

Gambar dikutip dari : http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/e/iod/about_iod.html

Karakteristik periode IOD- adalah kebalikan dari IOD+. SST di Samudera Hindia bagian tenggara akan lebih hangat, sementara di bagian barat akan lebih dingin, sehingga konveksi akan bergerak ke arah timur. Hal ini akan berakibat pada kekeringan di Afrika bagian timur dan curah hujan yang meningkat di Indonesia, terutama Indonesia bagian barat yang berdekatan dengan Samudera Hindia.

Gambar dikutip dari : http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/e/iod/about_iod.html

Sekarang mari kita kaitkan IOD dengan fenomena “kemarau basah” yang terjadi pada pertengahan tahun ini.

sst6

Gambar di atas menunjukkan anomali SST dan medan angin rata-rata  pada level 850 hPa untuk bulan Juni 2013. Kontur dengan shade merah menunjukkan anomali positif, sedangkan biru menunjukkan anomali negatif. Terlihat jelas bahwa bulan Juni 2013 adalah periode IOD-, di mana SST di daerah Samudera Hindia barat lebih dingin dari SST rata-rata (SST klimatologi), sementara SST di daerah Samudera Hindia Tenggara (terutama di perairan Indonesia) lebih hangat. Hal ini menyebabkan  konveksi akan bergerak ke timur menuju wilayah Indonesia, dengan kecepatan angin mencapai 20 m/detik. Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap curah hujan di Indonesia ?

hujan2

Gambar di atas menunjukkan curah hujan dan medan angin rata-rata dengan periode yang sama dengan anomali SST di gambar sebelumnya. Dari gambar terlihat hujan lebih terkonsentrasi pada Samudera Hindia timur dan tenggara, dibandingkan dengan samudera Hindia bagian barat yang curah hujannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa IOD merupakan salah satu faktor utama penyebab tingginya curah hujan di Indonesia bagian barat pada bulan Juni 2013.

Pertanyaan berikutnya adalah, seberapa besar pengaruh IOD terhadap curah hujan di Indonesia dari waktu ke waktu ?

dmi

Gambar di atas adalah grafik time series dari DMI dan curah hujan di Samudera Hindia tenggara (90E-110E, 10S-0S), yang mencakup wilayah Indonesia bagian barat, sejak Januari 2012 sampai Juni 2013. DMI mulai bernilai negatif sejak awal Mei 2013 hingga mencapai nilai terendah (dalam 1,5 tahun terakhir) pada bulan Juni 2013, yang diikuti oleh peningkatan intensitas hujan pada periode tersebut. Kondisi lebih ekstrim bisa kita lihat pada bulan Agustus – Oktober 2012. Bulan September – Oktober sejatinya adalah periode peralihan antara musim kemarau dan hujan, di mana fenomena cuaca lokal seperti Thunderstorm akibat siklus diurnal mendominasi wilayah Indonesia bagian barat. Jadi pada kondisi normal, curah hujan pada bulan-bulan tersebut seharusnya mulai meningkat sebelum memasuki musim hujan. Namun, akibat IOD+, curah hujan pada bulan tersebut menjadi sangat rendah.

Dari gambar juga terlihat bahwa tidak selamanya IOD berpengaruh terhadap intensitas curah hujan. Hal ini dikarenakan wilayah Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh fenomena lain seperti Monsun, Madden-Julian Oscillation (MJO), Kelvin Wave dll. Fenomena yang dominan umumnya ditentukan berdasarkan indeks yang bersangkutan. Jadi tidak usah heran kalau pada musim hujan terkadang tidak hujan, dan sebaliknya, musim kemarau malah sering hujan, karena fenomena cuaca di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh Monsun yang umumnya lebih populer di masyarakat.

Pada bulan Mei-Juni 2013, pengaruh IOD- bisa dikatakan dominan karena periode tersebut seharusnya merupakan  awal musim kemarau, sementara fase basah akibat MJO umumnya hanya berlangsung 1-2 minggu, yang diikuti oleh fase kering. Saya belum sempat menganalisis pengaruh fenomena lain yang siklusnya lebih rendah seperti Kelvin wave, Rossby wave dll. Namun berdasarkan data dan hasil analisis sementara, fenomena kemarau basah tahun ini memang lebih condong disebabkan oleh IOD.

Untuk sementara cukup sekian paparan mengenai IOD dan kontribusinya terhadap fenomena ‘kemarau basah’ tahun ini. Semoga memberi pencerahan kepada pembaca. Kritik dan saran yang membangun bisa ditulis pada bagian komentar atau di email langsung ke ardhi108@yahoo.com.

Terima kasih.

-ardhi-

——————-

Acknowledge and notes :

  • NOAA_OI_SST_V2 data provided by the NOAA/OAR/ESRL PSD, Boulder, Colorado, USA, from their Web site at http://www.esrl.noaa.gov/psd/.
  • GSMaP NRT data provided by JAXA, Japan, from their Web site : http://sharaku.eorc.jaxa.jp/GSMaP/index.htm.
  • The first and second image about IOD in this post were acquired from http://www.jamstec.go.jp/frsgc/research/d1/iod/e/iod/about_iod.html

 

Dipublikasi di Analisis, Umum | Tag , , , | 1 Komentar

Prediksi Curah Hujan April 2013

GFS Meteorogram 18 - 25 April 2013

GFS Meteorogram 18 – 25 April 2013

Gambar diatas adalah grafik prediksi curah hujan per tiga jam untuk wilayah Jabodetabek yang di-run sejak hari Kamis (18 April 2013). Sumbu X adalah waktu (jam, satuan GMT) dan sumbu Y adalah curah hujan (dalam milimeter).

Dari grafik tersebut nampak bahwa hujan di Jabodetabek diprediksi masih akan cukup tinggi hingga beberapa hari ke depan (tgl 22 April). Hujan umumnya terjadi pada sore hingga malam hari.

Curah hujan harian rata-rata wilayah sebesar sekitar 15 mm dengan intensitas pertiga jam sekitar 5 mm tersebut memang tidak akan menimbulkan banjir besar. Tetapi karena terjadi berturut-turut dalam waktu sekitar 1 minggu maka diperkirakan akan menimbulkan genangan sekitar 50 cm yang merepotkan beberapa wilayah di Jabodetabek. Namun demikian jika ada daerah-daerah yang berbatasan dengan sungai dan tanggulnya jebol maka kondisi ini bisa saja mengakibatkan banjir yang berbahaya.

Tim PRB Banjir

Dipublikasi di Analisis | Tag , | Tinggalkan komentar

MJO Kembali Datang

MJO (Madden Julian Oscillation) yang merupakan elemen terkuat dari variasi intraseasonal (siklus 30-90 hari) di wilayah tropis mulai kembali memasuki wilayah Indonesia sejak akhir pekan lalu. Indeks RMM (Real-time multivariate MJO Index) dari BOM Australia dan NOAA, menunjukkan bahwa MJO mulai memasuki fase 4, yang merupakan wilayah Indonesia bagian barat, dengan amplitudo yang semakin meningkat.

rmm.phase.Last40days

Berdasarkan analisis spektrum bilangan gelombang-frekuensi dari anomali radiasi gelombang panjang (OLR) pada lintang 7.5 LU – 7.5 LS, MJO diperkirakan akan meningkatkan aktivitas perawanan dan hujan di wilayah Indonesia hingga dua minggu ke depan, sebelum akhirnya bergerak ke samudera Pasifik.

olr.waves.EQ

Karena MJO ikut dipengaruhi oleh posisi matahari, yang saat ini terus bergerak menjauhi belahan bumi selatan, diperkirakan efeknya akan lebih terasa di wilayah Indonesia yang ada di sebelah utara khatulistiwa dibandingkan Jawa dan sekitarnya.

mjo_zonal

Walaupun relatif lebih ‘aman’ dari pengaruh MJO, wilayah Jawa, Bali dan sekitarnya masih cukup mendapat pengaruh dari siklon Victoria yang saat ini berpusat di sekitar barat laut Australia. Namun berdasarkan pergerakan siklon yang terus menuju daratan utama Australia dalam 24 jam terakhir (perhatikan/klik animasi di bawah), diperkirakan pengaruhnya terhadap cuaca di daerah selatan Indonesia akan semakin berkurang.

anigif

- Ardhi Adhary Arbain-

Dipublikasi di Analisis | Tinggalkan komentar

Indonesia Butuh Model Prediksi Hujan Terpadu

JAKARTA, KOMPAS.com – Pola curah hujan spesifik dan berintensitas tinggi seperti di Indonesia membutuhkan pengembangan model prediksi curah hujan terintegrasi. Itu untuk meningkatkan akurasi perkiraan curah hujan lebat yang berpotensi banjir.

Kepemilikan model itu dinilai penting. ”Hingga kini, Indonesia belum punya, terutama skala perkotaan,” kata Fadli Syamsudin, Manajer Proyek Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps) Maritime Continent Center of Excellence dalam ”Workshop on MCCOE Radar Meteorology in Indonesia” di Jakarta, Kamis (28/2/2013).

Pemodelan itu mengacu kondisi interaksi dinamis laut dan atmosfer di Indonesia, yang sebagian besar wilayahnya lautan.

Menurut Fadli, pemodelan curah hujan sangat diperlukan, terutama di perkotaan terkait penataan ruang dan mitigasi banjir. Banjir mengancam banyak kota besar di Indonesia yang umumnya di wilayah pantai.

Topografi pegunungan di tengah pulau membuat daerah pantai banyak diguyur hujan lebat. Angin bergerak dari laut ke darat pada pagi hari.

Model cuaca tropis

Memahami pola cuaca dan hidrometeorologi itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-earth Science and Technology (Jamstec) membuat model ramalan cuaca kawasan khatulistiwa. Pengembangannya berbasis data pengamatan stasiun radar cuaca dalam jejaring Harimau (Hydrometeorological Array for Intraseasonal Variation Monsoon Automonitoring).

Jejaring itu terdiri atas lima stasiun radar terpasang di beberapa lokasi di sekitar garis khatulistiwa. ”Model prakiraan cuaca di Indonesia selama ini mengacu pola cuaca subtropis yang tak dinamis seperti di sini,” urai Fadli.

Kini, BPPT akan memodifikasi pemodelan yang dikembangkan Jepang untuk memprediksi curah hujan lebat di perkotaan.

Menurut Takeshi Maesaka, peneliti pada Departemen Riset Prakiraan dan Pemantauan di National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED), pihaknya telah mengembangkan pemodelan curah hujan atau Estimasi Presipitasi Kuantitatif (QPE) di Jepang menggunakan radar X-band multi-parameter (MP).

Jejaring itu diklaim mampu memprediksi curah hujan secara akurat, tanpa perlu kalibrasi penakar hujan. Alat ini dapat membuat Estimasi Presipitasi Kuantitatif dengan resolusi waktu 1 menit. (YUN)

Dipublikasi di Berita Media | Tag , , , | Tinggalkan komentar

When a flood comes, what can we do?

When a flood comes, what can we do?

When a heavy rainstorm struck Jakarta, last month, the Indonesian capital’s ability to function literally went down the drain. For more than a week after, 250,000 people out of its population of over 10 million were either directly or indirectly affected by the flooding
which followed.

Jakarta is not the only city in Southeast Asia to suffer from flooding ? just last year Thailand’s capital, Bangkok, suffered the same fate too. And from these consecutive events, many have been left counting the real economic damage to countries who suffer such disasters.

Recently, JST had an opportunity to speak with Dr. Manabu D. Yamanaka of the Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) about the flood in Jakarta and the circumstances around it.

JST: I recently read reports stating that the BPPT (Indonesia’s Agency for Assessment and Application of Technology) used cloud-seeding technologies to stop the expansion of flooding in Jakarta. How does this work? And does it work?

Dr. Yamanaka: There is a special unit within BPPT called UPTHB. They are the ones who are responsible for this project. The unit was born during the 1970s when so-called “artificial rainmaking (or cloud seeding)” became a sort of boom in the U.S., Europe, and Japan. Back then, they used dry ice to change atmospheric temperature, or silver iodide to accelerate the growth of raindrops from cloud droplets. What they were trying to do was make the rain fall over the ocean before the clouds passed over land, or even guided those clouds to drought areas.

However, their attempts most likely failed because there are too many factors involved in natural phenomena and it turned out that their experiments caused even more unpredictable conditions. For example, during the 1980s in the U.S., this method were used on a hurricane but it actually brought about reverse result ? the hurricane actually got bigger and caused more damage. Also, during the same period in the Soviet Union, the method was introduced for areas with drought, but, in reverse, almost all it did was lead to an acceleration of desertification in central Asia. In the end, the prevailing scientific opinion was that we are better off leaving these things to nature.

JST: But in the case of Jakarta’s flooding, it has been used?

Dr. Yamanaka: Yes, In Asian countries such as China, Thailand, and Indonesia it is still used. A very public example of this was when cloud-seeding was used in Beijing in the lead-up to the Olympics in 2008.

In Indonesia, the UPTHB exists for the purpose of helping semi-drought areas. The researchers who work in this field are experts who studied and achieved degrees for cloud physics and radar. So they know the limit of the methods, but they do what they do because they need to get budgets approved for related studies.

JST: First in Bangkok, then in Jakarta ? How hard is flooding to predict? And how can it be prevented?

Dr. Yamanaka: Under international collaborations with us, BPPT has developed the data mapping system called “SIJAMPANG” which projects rainfall in real time based on data from radars on the internet. This helps them predict and prepare for flooding. The Indonesian agency for disaster prevention, BNPB, uses the SIJAMPANG rainfall map on a large display. The biggest change is the government could control all real-time information by itself. So they could prevent the society from being confused by hoax. Of course, it does not reach any goal yet. We still need to improve drain systems in the city.

To prevent flood or drought, it is necessary to grasp both climatological and geographical data. Some of the indicators are very biased towards anthropogenic activities and geographical features. For example, it took a couple of months for the land to dry out in Thailand after their flood last year because the area was so flat. In Jakarta on the other hand, when they had similar floods in 2007, it took only a week to dry because of the steeper incline the city sits on. Since then, an improved irrigation system funded by the Japanese government was installed and this time it took only a day for Jakarta to dry out because of that.

Having said that, I’d like to emphasize that the latest flood in Jakarta was the first time its cause – the rainfall was monitored 100% by the radar system, so more prevention options were available. That is one of our research project’s goals.

About Dr. Yamanaka:

Dr. Yamanaka is the leader of a project under the JST/JICA joint research program called “SATREPS”. His project is “Climate Variability Study and Societal Application through the Indonesia-Japan Maritime Continent COE – Radar-Buoy Network Optimization for Rainfall Prediction”. This project’s goal is to promote the creation of a climate observation network on both land and sea, including improved radar observation techniques for monitoring clouds and rainfall. As a “Maritime Continent”, the Indonesian Archipelago plays a role as a dam on the warm water flowing between the Pacific Ocean and the Indian Ocean, resulting in the world’s largest cloud activity and rainfall. In effect, it is pumping the warm, humid air upward and pole-ward, like a heart for global atmospheric circulation. Dr. Yamanaka and his research team have the task of researching this complex system.

Sumber: Masahito YANO, Friends of SATREPS –  http://www.jst.go.jp/global/english/kadai/h2104_indonesia.html

Dipublikasi di Umum | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Giliran Jawa Tengah Target Rekayasa Cuaca BPPT

TEMPO.CO, Jakarta-Setelah DKI Jakarta, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan menerapkan rekyasa cuaca di Provinsi Jawa Tengah. Seluruh peralatan dan perlengkapan diboyong ke Solo besok, Kamis, 28 Februari 2013.

Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan di BPPT, Tri Handoko Seto mengatakan operasi di Jawa Tengah akan di pusatan di Bandara Adi Soemarmo. Menurut dia operasi ini akan ditunjang empat unit pesawat terbang, satu pesawat jenis Hercules dan tiga lainnya pesawat jenis cassa.

“Kamis sudah operasi di Jawa Tengah, karena di sana lebih membutuhkan dibanding Jakarta,” kata Tri Handoko Seto kepada Tempo di Jakarta, Selasa, 26 Februari 2013.

Secara teknis kegiatan di Jawa Tengah tak jauh berbeda dengan kegiatan di Jakarta. Kebutuhan garam selama sebulan beroperasi di Jateng sama dengan operasi di Jakarta, 200-an ton garam. “Semua sudah disiapkan, untuk sementara yang dibawa 100 ton garam dari Jakarta,” tuturnya.

Sumber: Tempo.co RABU, 27 FEBRUARI 2013 | 05:57 WIB oleh FIRMAN HIDAYAT

Dipublikasi di Berita Media | Tag , | Tinggalkan komentar

Hari Ini, Rekayasa Cuaca Jabodetabek Berakhir

TEMPO.COJakarta–Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT, Tri Handoko Seto, mengatakan, kegiatan hujan buatan di daerah Jakarta dan sekitarnya berakhir hari ini, Rabu, 27 Februari 2013. Kemarin, operasi rekayasa cuaca akan kembali menabur empat ton garam di atas udara Selat Sunda.

Menurut Tri Handoko Seto, Selat Sunda menjadi titik kegiatan untuk menghalau turunnya hujan di daratan Jakarta. Rekayasa ini dilakukan agar hujan yang seharusnya turun di daratan sudah bisa dihujankan di Selat Sunda.

“Jadi kami hujankan duluan, biar enggaknambah-nambahi debit air di Jabodetabek,” kata dia. (Baca juga: Begini Cara BPPT Merekayasa Agar Hujan Tak Turun).

Jakarta sempat diguyur hujan pada Selasa pagi. Berdasarkan kerja BPPT, kata Tri Handoko, rekayasa tidak akan mengganggu mendung di atas Jakarta. Namun rekayasa lebih diutamakan menghalau mendung yang bakal masuk ke wilayah Jakarta.

“Kalau Jakarta hujan, ya tidak apa-apa, tapi debit airnya jangan tambah-tambahi dari mendung yang dari luar,” kata dia. Simak info banjir Jakarta di sini.

Sumber: Tempo.co RABU, 27 FEBRUARI 2013 | 05:32 WIB oleh FIRMAN HIDAYAT

Dipublikasi di Berita Media | Tag , | Tinggalkan komentar