Radar Cuaca Bukan Sulap Bukan Sihir

Radar Cuaca di Puspitek Serpong. (foto: Ardhi)

Radar, sistem deteksi obyek yang telah diperkenalkan sejak awal abad XX, kini makin dikembangkan teknologi dan aplikasinya. Sistem yang menggunakan gelombang radio ini banyak digunakan untuk bermacam keperluan, antara lain deteksi pesawat terbang, kapal laut, peluru kendali, kendaraan bermotor, informasi cuaca, dan situasi permukaan bumi.

Radar Cuaca, sebagaimana namanya, mempunyai kekhususan aplikasi dalam bidang cuaca.

Dari Wikipedia didapat keterangan:

A weather radar is a type of radar used to locate precipitation, calculate its motion, estimate its type (rain, snow, hail, etc.), and forecast its future position and intensity. (selengkapnya di Wikipedia)

Banyak sekali radar cuaca yang ada di muka bumi ini. Salah satunya ada di selatan Jakarta, yaitu di PUSPITEK, Serpong. Di sini terinstal Radar Cuaca berjenis Radar Doppler dengan sistem Band C pada frekuensi 5.32 GHz.

Radar Cuaca Serpong adalah radar cuaca yang digunakan untuk riset dan sedang dalam pengembangan, baik sistem yang sedang berjalan maupun aplikasi dari data yang dihasilkan. Salah satu luaran yang sudah bisa dilihat adalah peta sebaran awan dan juga hujan (jika terjadi hujan tentunya) untuk kawasan yang cukup luas. Radius sapuan radar optimal yang diset pada Radar Cuaca Serpong ini sejauh 105 km. Jarak ini cukup untuk menyapu kawasan Provinsi Banten (kecuali Ujung Kulon) di sebelah barat, dan kota Purwakarta di sebelah timur. Di selatan hingga sekitar 25 km selatan kota Sukabumi.

Apa yang bisa didapat dari Radar Cuaca tersebut..? Tentunya banyak. Dan sesuai dengan peruntukannya maka kita bisa mendapatkan:

  • Sebaran awan pada radius jangkauan radar, ditandai dengan “warna” yang menggambarkan besaran dBZ. Saat harga dBZ mencapai nilai 10, “biasanya” berarti hujan sudah turun. Semakin besar nilai dBZ berarti butir air yang memantulkan gelombang radar kembali juga semakin besar. (Arti dBZ sesungguhnya dapat dilihat di situs NOAA).
  • Dapat juga kita ketahui informasi Status Observasi radar tersebut, yaitu:
    • Waktu akuisisi data (dalam GMT+7),
    • Tipe yang dipakai yaitu Reflectivity,
    • Mode yang diaktifkan: Rain Observation, yang mempunyai luaran 8 parameter tetapi yang diperhatikan saat ini hanya 2 saja yaitu Reflectivity dan Velocity. Selain mode Rain Observation bisa juga digunakan mode Composition, yang mempunyai 14 parameter. Pada radar di Serpong ini Mode Composition belum diaktifkan.
    • Elevation sapuan radar. Ada 18 tingkat elevasi (sudut antara garis horison dengan titik nadir) yang direkam yaitu mulai dari 1° hingga 81º.

Bagaimana dengan resolusi temporal dari data ini..? Untuk mode Rain Observation maka data yang direkam dan diproses untuk 18 tingkat elevasi tadi membutuhkan waktu 6 menit. Ini berarti kita bisa memantau kondisi awan/hujan relatif setiap 6 menit sekali.

Jika mode Composition juga diaktifkan, maka waktu yang diperlukan adalah 12 menit untuk kedua mode sekaligus. Mode Composition menjanjikan data antara lain adalah profil vertikal dari angin. Ini tentunya sangat-sangat berguna dalam pemantauan cuaca yang cukup detil.

Kelemahan radar juga perlu diketahui, yaitu masih sangat terpengaruh dari kondisi topografi. Sehingga untuk daerah yang berundulasi atau bergunung maka akurasi hasil akan menurun.

Jadi, yang sangat penting dipahami adalah radar cuaca hanyalah alat untuk mendeteksi kondisi beberapa parameter cuaca. Radar tidak dapat digunakan sebagai alat untuk mengubah atau memodifikasi cuaca. Jika kemudian dikenal adanya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) maka radar berperan sebagai alat bantu pendukung dari operasi TMC tersebut.

Bukan sulap bukan sihir, radar cuaca tidak bisa mengubah atau memodifikasi kondisi cuaca. Bukan sulap bukan sihir pula, radar cuaca adalah teknologi yang bisa dipelajari dan sangat terukur.

Jadi, pesan moralnya adalah: pahami fungsinya dan gunakan (serta wartakan) dengan baik dan benar “kesaktian” radar cuaca ini untuk pembelajaran bersama.

_

_Hartanto (NEOnet BPP Teknologi)

Terimakasih untuk mas Ardhi yang sudah memberi pencerahan tentang Radar Cuaca Serpong.

Pos ini dipublikasikan di Umum dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Radar Cuaca Bukan Sulap Bukan Sihir

  1. Ping balik: Resolusi Data dan Skala Ruang dalam Fenomena Cuaca | Analisis @infoHujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s