Resolusi Data dan Skala Ruang dalam Fenomena Cuaca

Pengamatan cuaca

Pengamatan cuaca

Pengamatan fenomena cuaca dapat dilakukan dengan berbagai acuan dan tentunya mempunyai skala ruang yang berbeda. Perbedaan skala ruang dapat mengakibatkan adanya perbedaan persepsi dan tentunya akan menghasilkan analisis yang sangat mungkin berbeda.

Terkait dengan hiruk-pikuk bencana banjir di tanah air, khususnya di ibukota Jakarta dan sekitarnya, maka salah satu rekaman yang menarik diperhatikan adalah kejadian pada tanggal 2 Februari 2013 pada lokasi Teluk Jakarta dan sepanjang pantai Utara Provinsi Banten hingga ke Selat Sunda.

Curah hujan yang terjadi pada awal bulan Februari dari pagi sampai siang hari yang menimbulkan pola banjir yang berbeda di Jakarta disebabkan oleh pengaruh fenomena cuaca lokal di atas perairan Selat Sunda, Barat Sumatera Selatan dan Utara perairan Banten.

Pembentukan awan konveksi secara intensif di atas perairan ini disebabkan oleh dilepaskannya kandungan uap air di permukaan laut dalam jumlah besar karena peningkatan suhu permukaan laut di perairan ini. Pada periode awal peralihan musim ini (Februari) mengakibatkan peranan angin darat dan angin laut antara daratan di P. Sumatera dan P. Jawa yang diapit oleh perairan laut mengakibatkan awan konveksi yang terpusat di Selat Sunda ini, sebagian bergerak ke arah daratan P. Sumatera dan sebagian lagi bergerak ke arah Tenggara.

Bagi saya yang awam akan fenomena ini akan lebih asik jika melihat dari sisi spasial.

Penjelasan diatas dapat kita amati “secara visual” dan spasial, mari kita lihat beberapa animasi dibawah ini. Kita perhatikan posisi Jakarta (atau Banten bagian Utara) pada beberapa contoh berikut ini, khususnya adalah pada rentang pagi-siang hari yaitu jam 8 sd 12 WIB, atau jam 1 sd 5 UTC.

Dari data satelit MTSat-1R diperoleh animasi (hasil sekuen per jam, dan jam dalam UTC) adalah sebagai berikut (klik untuk melihat animasi tersebut).

Data MTSat posisi awan pada tanggal 2 Februari 2013 jam 00 - 11 UTC (07 - 18 WIB)

Data MTSat posisi awan pada tanggal 2 Februari 2013 jam 00 – 11 UTC (07 – 18 WIB), perhatikan rentang jam 1 sd 5 UTC pada daerah Banten dan Jakarta.

Data MTSat-1R mempunyai resolusi 4 Km untuk kanal infra merah. Mempunyai kemampuan mendeteksi awan puncak, distribusi awan dan juga tipe awan. Yang berwarna kuning pada gambar diatas adalah awan hujan yang mempunyai ketinggian hingga lebih dari 10 Km.

Jika kita melihat data dari sumber lain lagi, misalnya adalah GSMap, merupakan hasil dari gabungan beberapa data satelit maka akan didapat animasi sebagai berikut (perhatikan pada posisi Banten-Jakarta, klik untuk melihat animasi).

Animasi dari GSMap pada 2 Februari 2013.

Animasi dari GSMap pada 2 Februari 2013. Peratikan jam 1 sd 5 UTC pada daerah Banten dan Jakarta.

Gambar animasi yang dihasilkan GSMap tersebut mempunyai resolusi grid 0,1 arc-degree (lat dan long) atau sekitar 1 Km. Waktu adalah dalam UTC.

Satu hal lagi yang bisa kita lihat secara spasial adalah hujan yang dideteksi oleh radar cuaca, artinya adalah pengamatan dari darat, tidak seperti satelit yang dari udara.

Pada pantauan radar cuaca Harimau, yang terletak di Puspitek Serpong, maka didapat animasi dari jam 08 sd 13 WIB sebagai berikut (klik untuk melihat animasi).

Animasi dari data radar cuaca Harimau di Puspitek Serpong pada 2 Februari 2013.

Animasi dari data radar cuaca Harimau di Puspitek Serpong pada 2 Februari 2013.

Pada radar cuaca ini telah diset untuk resolusi spasial (atau grid) 500 meter dan jangkauan 105 Km, dan pengamatan untuk kondisi ketinggian 2 Km, dapat terlihat dengan jelas hujan yang terjadi pada selang waktu tersebut untuk wilayah Banten bagian Utara yang menjadi fokus wilayah perhatian kita. Data radar ini adalah data hujan, yang tentunya berkorelasi dengan posisi awan hujan.

Dari perbedaan resolusi dan skala data yang dapat kita lihat tersebut, untuk rentang waktu yang sama (perhatikan waktu yang bertampalan), terlihat ada perbedaan pergerakan awan dan/atau hujan. Sekali lagi, silakan perhatikan pada wilayah Banten dan Jakarta saja.

Penggunaan multiskala dan multiresolusi dari suatu analisis adalah hal yang jamak dilakukan, dan semua tentunya tergantung sedalam apa analisis yang akan dihasilkan. Akibat dari perbedaan ini maka tentunya sangat mungkin terjadi perbedaan interpretasi yang berakibat pada akurasi analisis.

Prediksi fenomena atmosfer adalah hal yang sangat sulit (tetapi bukan berarti tidak mungkin). Dan dengan memahami secara baik dan benar semua yang telah terjadi dengan data acuan yang (juga) baik dan benar akan lebih mencerdaskan kita dalam mempelajari fenomena ini.

Fenomena alam bukan untuk “memecahbelah keilmuan manusia dan manusia berilmu”, tetapi justru akan bisa saling memperkaya pengetahuan, dan menghindari dampak negatif bagi kehidupan.

Pesan moral untuk diri saya sendiri: Data dan fakta adalah mutlak diperlukan untuk analisis fenomena alam yang bermakna.

Referensi lebih detil mengenai wahana dan sensor silakan dibaca melalui taut berikut:

Sumber gambar:

Salam : )
_Hartanto (bukan meteorologist, penggemar film Twister dan senang melihat animasi fenomena alam)

*/ mohon koreksi para suhu

Pos ini dipublikasikan di Umum dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Resolusi Data dan Skala Ruang dalam Fenomena Cuaca

  1. Arif Budiansyah berkata:

    teori hujan saya semoga berguna dan bisa dibuktikan berdasarkan peredaran bulan
    saya mau tulis teori saya tentang pembagian hujan(berdasarkan peredaran bulan).
    1.hujan berdasarkan peredaran bulan
    2.tanggal 1 sd 15 hujan utamanya pagi(dibawah jam 12.00) dan malam(diatas jam 17.00),dengan masa peralihan tanggal 1 sd 8(kadang terjadi siang)
    3.tanggal 15 sd 1 hujan utamanya siang(12.00 sd 5.00) dengan masa peralihan tanggal 15 sd 22(kadang terjadi malam dan pagi)
    4.hujan lebih lebat terjadi pada tanggal 22 sd 7 daripada tanggal 7 sd 22
    5.pada bagian bulan mati +-2 sd 3 hari hujan biasanya yg utama kelebatannya.
    nah ini teori berdasarkan tanggalan 30 hari sedangkan bulan berdasarkan peredaran bulan ada yg 29 dan 30.ini yg lengkap:
    1.pd bl harinya 29 ke hr 30—tgl 29 sd 14 hujan malam dan pagi
    2.pd bl hr 30 ke hr 29—tgl 15 sd 1 hujan siang
    3.pd bl harinya 29—tgl 1 sd 15 hujan malam dan pagi
    4.pd bl harinya 29 ke hr 30—tgl 15 sd 29 hujan siang
    nah ini teori berdasarkan tanggalan 30 hari sedangkan bulan berdasarkan peredaran bulan ada yg 29 dan 30.ini yg lengkap:
    1.pd bl harinya 29 ke hr 30—tgl 29 sd 7 hujan malam dan pagi,tapi kadang siang(peralihan)
    2.pd bl hr 30—tgl 15 sd 22 hujan siang,tapi kadang malam dan pagi(peralihan)
    3.pd bl harinya 29—tgl 1 sd 8 hujan malam dan pagi,tapi kadang siang(peralihan)
    4.pd bl harinya 29 —tgl 15 sd 2 hujan siang,tapi kadang malam dan pagi(peralihan)
    nah ini teori berdasarkan tanggalan 30 hari sedangkan bulan berdasarkan peredaran bulan ada yg 29 dan 30.ini yg lengkap:
    1.pd bl harinya 29 ke hr 30—tgl 24 sd 9 hujan lebih lebat
    2.pd bl hr 30 —tgl 9 sd 22 hujan biasa
    3.pd bl harinya 29 ke 30—tgl 22 sd 7 hujan malam lebih lebat
    4.pd bl harinya hr 30—tgl 7 sd 23 hujan biasa
    ini prediksi jabodetabek,tapi ini dalam periode 1 bulan berdasarkan peredaran bulan.paling lebat -+2 dan 3 dari bulan mati yaitu tanggal 29/30 dan 1.tapi semakin ke musim kemarau intens hujan semakin berkurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s