Keterangan Pers: Penerapan TMC dalam Pengendalian Banjir Jakarta

Keterangan Pers:

Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca Sebagai Salah Satu Upaya Pengendalian Banjir di DKI Jakarta

Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai salah satu upaya pengendalian banjir di DKI Jakarta yang dimulai sejak tanggal 26 Januari 2013 masih berlangsung. Sampai tanggal 7 Februari, aktivitas penerbangan untuk melakukan penyemaian telah dilakukan sebanyak dua puluh delapan sorti penerbangan dengan menghabiskan bahan semai NaCl powder sebanyak 93,6 ton. Dua puluh satu sorti penerbangan dilakukan dengan menggunakan pesawat Hercules A-1323 milik TNI AU dengan Posko Halim Perdanakusuma dan 7 sorti penerbangan menggunakan pesawat Casa U-616 milik TNI AL dengan Posko Pondok Cabe., menghabiskan bahan semai NaCl powder sebanyak 93,6 ton. Lokasi penyemaian awan yang telah dilakukan di sekitar pantai barat Pulau Jawa dan wilayah Timur dan Timur Laut Jakarta.

Dalam upaya mempercepat turunnya hujan atau mengusahakan hujan turun di suatu wilayah, kondisi cuaca dikaji agar bisa membuat strategi penerapan TMC pada hari itu. Meskipun aktivitas penerapan TMC cakupannya sempit, tapi aktivitas penerapan TMC harus memperhatikan sistim cuaca yang terjadi di sekitarnya. Untuk itu, kajian cuaca skala synop juga dilakukan. Dari kajian skala synop akan diketahui dari mana massa udara yang masuk daerah target, kualitas massa udara yang masuk, kering atau mengandung uap air. Kondisi atmosfer juga dikaji, apakah atmosfer kondisinya stabil atau tidak stabil? Adakah energi yang tersedia di alam untuk mensuport pertumbuhan awan cumulus (Cu) atau bahkan cumulonimbus (Cb)? Kondisi atmosfer dikaji dengan menggunakan data rawinsonde. Meskipun tidak meluncurkan sendiri, data bisa diambil dari stasiun yang terdekat. Data tersebut tersedia di http://weather.uwyo.edu/upperair/sounding.html.

Jika penerapan TMC digunakan untuk meningkatkan curah hujan, upaya yang dilakukan adalah bagaimana hujan jatuh di daerah target. Awan yang ada di daerah target diupayakan turun, sementara awan yang akan masuk diupayakan tumbuh dan turun hujan di daerah target.

Jika TMC digunakan untuk mengurangi banjir, strategi yang digunakan adalah bagaimana agar hujan tidak terlalu banyak turun di daerah yang akan menimbulkan banjir. Menurut Ka. Dinas PU DKI Jakarta tahun 1997, DKI Jakarta sanggup menerima curah hujan sebesar 120 mm dalam 24 jam. Artinya, bila curah hujan total sebesar 120 mm dalam 24 jam seluruh sarana yang ada di DKI Jakarta mampu menerima jumlah air sebesar itu tanpa terjadi banjir yang membahayakan. Meskipun genangan terjadi, hal itu sangat wajar karena hampir semua air hujan di DKI Jakarta menjadi run off dan sangat sedikit yang masuk ke dalam tanah akibat hampir seluruh permukaan tanah sudah tertutup aspal atau bangunan. Upaya yang diperlukan adalah bagaimana agar hujan di DKI Jakarta tidak memiliki intensitas curah hujan lebih besar dari kemampuan sarana yang ada di DKI Jakarta. Meskipun intensitas curah hujan di DKI Jakarta bisa dikendalikan, kondisi di DAS sungai yang masuk DKI Jakarta juga harus diperhatikan. Jika tidak, akan terjadi banjir kiriman jika curah hujan di DAS sungai yang masuk DKI Jakarta sangat tinggi.

Dalam upaya ini tidak benar kalau penerapan TMC ditujukan untuk memindahkan awan dari satu lokasi ke lokasi lain. Yang benar adalah, bagaimana awan yang mempunyai potensi hujan besar di daerah target tidak terjadi sebesar potensi yang dimilikinya. Dengan upaya seperti itu, jumlah curah hujan akan berkurang dan atau akan mengurangi intensitas curah hujan. Dengan kata lain, redistribusi curah hujan secara spatial dan temporal.

Sampai hari ini, 8 Februari 2013 penerapan (TMC), yang merupakan kerjasama antara BNPB, Pemda DKI Jakarta, TNI AU, TNI AL, BMKG dan BPPT, sebagai salah satu upaya pengendalian banjir di DKI Jakarta berhasil dengan baik.

Kondisi Cuaca tanggal 6 Februari 2013.

Kejadian hujan deras di DKI Jakarta yang menyebabkan genangan atau banjir terutama di pusat kota akibat tingginya curah hujan dalam tempo yang sangat singkat.

Gradient winds analysis tanggal 6 Februari 2013, jam 07:00 WIB. Courtesy of BOM.

Gradient winds analysis tanggal 6 Februari 2013, jam 07:00 WIB. Courtesy of BOM.

Eddy (E) yang muncul di utara Laut Jawa menyebabkan massa udara masuk ke wilayah DKI Jakarta dari arah Selatan – Tenggara. Untuk itu, awan yang bergerak dari Tenggara ataupun Timur harus diwaspadai.

Citra C-band radar milik BMKG, 6 Februari 2013 jam 16:37 WIB.

Citra C-band radar milik BMKG, 6 Februari 2013 jam 16:37 WIB.

 

Citra X-band Doppler radar milik UPT Hujan Buatan - BPPT, 6 Februari 2013 jam 13:52 wib. Awan bergerak dari Timur menuju Eddy. Awan harus jadi hujan sebelum masuk ke daerah target.

Citra X-band Doppler radar milik UPT Hujan Buatan – BPPT, 6 Februari 2013 jam 13:52 wib. Awan bergerak dari Timur menuju Eddy. Awan harus jadi hujan sebelum masuk ke daerah target.

Jika awan yang di Timur DKI Jakarta tidak diberi perlakuan, berapa jumlah curah hujan akan ditambahkan dari awan tersebut?

Mengajak semua lembaga riset dan perguruan tinggi untuk bersama-sama melakukan kajian, riset, eksperimen tentang TMC, agar ke depan TMC bisa semakin efektif karena kebutuhan teknologi tersebut di tanah air sangat besar, mengingat tingginya bencana hidrometeorologi maupun pentingnya manfaat tata kelola sumberdaya air lainnya untuk berbagai bidang, terutama 3 bidang prioritas yaitu food, energi and water.

Sumber: Keterangan Pers BPPT tanggal 8 Februari 2013.

Tentang httsan

lahir di indonesia, belajar di indonesia, bekerja untuk indonesia, dengan komunikasi dunia.
Pos ini dipublikasikan di Umum dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s